Beranda

Senin, 26 September 2011

Free Download Anti Virus

Teman teman yang punya masalah dengan komputer atau laptop karena terserang virus, saya membantu teman-teman dalam menyediakan berbagai macam anti virus yang anda butuhkan.
Untuk mendownloadx silakan klikDownload atau Download

Kamis, 15 September 2011

Materi Biologi

Kelas X
Semester I
Bab I Biologi bagi Kehidupan
A. Objek Biologi
B. Cabang-cabang Biologi
C. Peran Biologi
Bab II Virus
A. Virus Organisme Aseluler
B. Struktur, Bentuk, dan Ukuran Virus
C. Klasifikasi Virus
D. Perkembangbiakan Virus
E. Peranan Virus bagi Kehidupan
Bab III Archaeobacteria dan Eubacteria
A. Prokaryot
B. Archaeobacteria
C. Eubacteria (Bakteri)
D. Bakteri dan Manusia
Bab IV Protista
A. Protista Mirip Hewan (Protozoa)
B. Protista Mirip Tumbuhan (Ganggang/Alga)
C. Protista Mirip Jamur (Jamur Protista)
Bab V Fungi
A. Zygomycotina
B. Ascomycotina
C. Basidiomycotina
D. Deuteromycotina
E. Lumut Kerak (Liken)/Lichenes
F. Mikoriza
Semester II
Bab VI Tingkat Keanekaragaman dalam Kehidupan
A. Keanekaragaman Gen
B. Keanekaragaman Jenis
C. Keanekaragaman Ekosistem
Bab VII Biodiversitas Di Indonesia
A. Manfaat Keanekaragaman Hayati
B. Keunikan Biodiversitas di Indonesia
C. Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Keanekaragaman Hayati
Bab VIII Plantae
A. Bryophyta (Lumut)
B. Pterydophyta (Tumbuhan Paku)
C. Spermathophyta (Tumbuhan Berbiji)
Bab IX Animalia
A. Porifera
B. Coelenterata
C. Plathyhelminthes
D. Nemathelminthes
E. Annelida
F. Mollusca
G. Arthropoda
H. Echinodermata
I. Chordata
Bab X Ekosistem
A. Tingkat Organisasi Kehidupan dalam Ekosistem
B. Komponen Penyusun Ekosistem
C. Interaksi dalam Ekosistem
D. Keseimbangan Ekosistem
E. Suksesi
F. Tipe-tipe Ekosistem
Bab XI Aliran Energi dan Daur Biogeokimia
A. Aliran Energi
B. Rantai Makanan
C. Jaring- jaring Makanan
D. Tingkat Trofik
E. Piramida Ekologi
F. Daur Biogeokimia
Bab XII Pencemaran Lingkungan
A. Macam-macam Pencemaran dan Penyebabnya
B. Perubahan Lingkungan
C. Upaya Pencegahan Pencemaran Lingkungan
D. Parameter Pencemaran dalam Lingkungan
E. Jenis-jenis Limbah dan Pemanfaatan Limbah
Materi Kelas X selanjutnya bisa Anda dapatkan pada Kategori SMA Kelas X pada blog ini.

Rabu, 14 September 2011

Klasifikasi Makhluk Hidup

Musa paradisiaca
Klasifikasi Makhluk Hidup
Urutan tingkatan takson dari yang paling tinggi sampai terendah adalah sebagai berikut:
Tingkatan Takson
Tumbuhan (Padi)
Hewan (Anjing)
Kingdom
Divisi/filum
Kelas
Ordo (Bangsa)
Famili (suku)
Genus (marga)
Spesies (jenis)
Plantae
Spermatophyta
Monocotyledonae
Graminales
Graminae
Oryza
Oryza sativa
Animalia
Chordata
Mammalia
Carnivora
Canidae
Canis
Canis familiaris

 Pemberian nama ilmiah suatu makhluk hidup berdasarkan metode binomial nomenclature atau tata nama ganda. Dengan metode ini suatu jenis makhluk hidup memiliki nama yang tidak digunakan oleh jenis makhluk hidup.  Dengan aturan sebagai berikut:


a. Nama suatu spesies terdiri atas dua kata, kata pertama menunjukkan nama genus dan kata kedua merupakan penunjuk jenis (contoh : Musa paradisiaca) 

b.    Huruf pertama nama genus ditulis dengan huruf kapital, sedangkan huruf pertama nama penunjuk jenisnya ditulis dengan huruf kecil.
c.     Nama spesies menggunakan bahasa latin atau yang dilatinkan, misalnya Babyrousa babyrussa (babirusa)
d.    Nama spesies harus ditulis berbeda dengan huruf-hurf lainnya. Misalnya jika dalam suatu teks hurufnya normal (tegak) maka spesies harus dicetak miring (italic). Demikian pula sebaliknya. Nama spesies juga dapat ditulis dengan cara diberi garis bawah pada setiap katanya. Berikut ini contoh penulisan nama spesies :
. Mangga (Mangifera indica) atau (Mangifera indica)
. Marmot (Cavia cobaya) atau (Cavia cobaya)
e.    Jika nama spesies tumbuhan terdiri atas lebih dari dua kata, kata kedua dan berikutnya harus digabung atau diberi tanda penghubung, misalnya kembang sepatu ditulis Hibiscus rosasinensis atau Hibiscus rosa-sinensis
f.     Jika nama spesies hewan terdiri atas tiga kata, nama tersebut bukan nama spesies melinkan nama subspesies (anak jenis) yaitu nama takson dibawah tingkat spesies. Contohnya kucing rumah yang jinak (Felis maniculata domestica).
g.    Nama spesies juga mencantumkan inisial pemberi nama spesies tersebut misalnya jagung (Zea mays L.) huruf L tersebut merupakan inisial dari Linnaeus.

Keanekaragaman Hayati  
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas terdiri atas 3 yaitu : keanekaragaman gen, spesies, dan keanekaragaman ekosistem.
1.    Keanekaragaman gen
Adalah variasi antara individu sejenis, yang dapat kita amati melalui penampakkan fenotipnya. Misalnya perbedaan antara bulu dan pial ayam, variasi mangga seperti mangga gadung, arum manis, manalagi dan golek, macam-macam tanaman padi yaitu : IR, Rojolele, PB, Sedani dan Bengawan, macam-macam kelapa yaitu kopyor, hijau, dan gading. Carilah contoh lainnya.

2.    Keanekaragaman spesies,
Keanekaragaman atau variasi yang terdapat pada berbagai  spesies atau jenis dalam genus yang sama. Contoh variasi antara padi, gandum, dan jagung (suku gramineae), variasi antara famili palmae yaitu kelapa, pinang, aren dan lontar. Dll.
 

3.    Keanekaragaman Ekosistem
Merupakan keanekaragaman suatu komunitas yang terdiri dari hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme dalam suatu habitat. Contoh hutan hujan, hutan tropis, padang rumput danau dll.

Selasa, 23 Agustus 2011

genetika

Selasa, 10 Mei 2011 - Prinsip pewarisan ditemukan dalam eksperimen pembiakkan dengan tanaman yang melacak bagaimana sifat, atau gen, bergerak dari generasi ke generasi. Tiap gen memiliki beberapa bentuk, yang disebut alel. Organisme yang bereproduksi secara seksual memiliki dua salinan dari tiap gen, satu diwariskan dari tiap orang tua. Anak kemungkinannya sama besar untuk mewariskan kedua salinan. Gen tersusun dari DNA, atau asam dioksiribosa, yang mengandung cetak biru untuk pembuatan sebuah organisme. DNA disimpan dalam inti sel, terorganisasi menjadi kromosom.



Semua manusia memiliki satu gen untuk tipe darah dalam sistem ABO. Huruf “ABO” berarti untuk dua tipe molekul di permukaan sel darah merah: tipe A, tipe B atau tidak sama sekali (O). Alelnya adalah A, B, atau O. Tiap orang memiliki sepasang alel, satu dari tiap orang tua. Kedua alel ini tidak mesti sama, dan seringkali memang berbeda; seseorang dengan tipe darah AB memiliki satu alel A dan satu alel B.

DNA tersusun dari empat basa kimia, bernama A, T, C, dan G. Ini adalah abjad untuk kode genetik. Semua mahluk hidup memiliki DNA yang mengandung keempat basa ini dalam kombinasi berbeda. Lewat mereka, DNA menyediakan instruksi tersandi untuk membuat protein, yang pada gilirannya menyusun sel-sel.

DNA terlihat seperti sebuah tangga tali berpuntir, yang disebut heliks ganda. Sis-sis tangga tersusun dari gula dan fosfat; anak tangganya tersusun dari dua pasangan basa. Pasangan basa tersusun lewat aturan khusus: Basa A selalu berikatan dengan T, dan C selalu dengan G. Karena sistem ini, satu sisi DNA adalah komplemen, atau negatif, dari sisi lain.

Untuk membuat sebuah protein, DNA menyalin dirinya sendiri. Untuk melakukan ini, molekul lain, bernama RNA, dibutuhkan. Ia terdiri dari basa pula; A, C, dan G ada, namun basa U menggantikan basa T. RNA memiliki aturan pasangan yang sama; A selalu berikatan dengan U dan C berikatan dengan G. DNA membuka dan RNA membuat salinan komplemen dari tiap sisi. Lalu molekul RNA mengambil salinan tersebut ke ribosom sel dan memecahkan sandinya untuk membuat protein. Mutasi, faktor penting dalam evolusi, terjadi ketika sebuah basa secara tidak sengaja salah tersandi.

Sumber :

Donald Johansson. Becoming Human.

Minggu, 21 Agustus 2011

ikan modern

Komunitas Ikan Modern Hidup Cepat dan Mati Muda
Senin, 4 Juli 2011 - Komunitas ikan di abad ke-21 hidup cepat dan mati muda. Itulah temuan utama dari studi terbaru oleh para peneliti dari Wildlife Conservation Society yang membandingkan ikan-ikan yang baru ditangkap di pesisir Kenya dengan tulang ikan yang tersimpan di situs Swahili kuno untuk memahami bagaimana membangun perikanan saat ini.
________________________________________

Mencari bagaimana populasi ikan dipengaruhi tekanan perikanan yang meningkat seiring waktu, McClanahan dan Omukoto membandingkan data sejarah hidup komunitas ikan modern (yang dikumpulkan dari ikan yang ditangkap dari bekas-bekas ikan yang digali dari pemukiman Swahili kuno di Shanga, Kenya. Terbentang sekitar 650 tahun, pemukiman ini memberi pandangan berharga pada para peneliti mengenai bagaimana komponen komunitas ikan dan tekanan perikanan berubah seiring waktu.
Para peneliti menemukan kalau sejarah hidup ikan yang tertangkap perikanan modern dan komponen komunitas ikan purba berbeda nyata. Komunitas ikan purba memiliki predator puncak yang persentasinya besar – spesies yang memangsa ikan dan invertebrata besar seperti siput, teripang, dan tiram – komunitas ikan modern mengandung lebih banyak spesies yang memakan tanaman, invertebrata kecil seperti kutu laut, umumnya spesies yang berada pada rantai makanan yang lebih rendah. Komponen komunitas ikan modern juga mengandung lebih banyak spesies yang lebih kecil ukurannya dengan laju pertumbuhan dan kematian lebih tinggi.
Penelitian ini juga menemukan kalau jumlah tulang ikan di midden berpuncak antara 1000-1100 M (sekitar 1000-900 tahun lalu) sebelum menurun, sementara belulang domba dan kambing menjadi lebih banyak dalam level substrata yang lebih tinggi, menunjukkan kalau ada pergeseran pola makan manusia ke hewan ternak.
Dari Fiji ke Kenya ke terumbu karang Glover, penelitian Dr. McClanahan telah memeriksa ekologi, perikanan, pengaruh perubahan iklim, dan manajemen terumbu karang pada lokasi kunci di dunia. Penelitian ini didukung yayasan John D. and Catherine T. MacArthur Foundation dan Yayasan The Tiffany & Co.
Sumber berita :
Wildlife Conservation Society
Referensi jurnal:
Timothy R. McClanahan, Johnstone O. Omukoto. Comparison of Modern and Historical Fish Catches (AD 750-1400) to Inform Goals for Marine Protected Areas and Sustainable Fisheries. Conservation Biology, 2011; DOI: 10.1111/j.1523-1739.2011.01694.x
di kopi dari http://www.faktailmiah.com/

Membuat Skala Pengukuran & Instrumen Penelitian

Membuat Skala Pengukuran & Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan istrumen untuk mengumpulkan data penelitian. Istrumen penelitian ini digunakan untuk meneliti variabel yang diteliti. Dengan demikian junlam instrumen yang akan digunakan untuk penelitian tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Instrumen-instrumen penelitian sudah ada yang dibekukan, tapi ada yang harus dibuat peneliti sendiri. Karena instrumen penelitian akan diguankan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap istrumen harus mempunyai skala.

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam penelitian akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagi instrumen untuk mengukur berat emas, disebut dengan skala mligram (mg) dan kan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur; meteran dibuat untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akam menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.

Dengan skala pengukuran ini, maka variabel yang akan diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif. Misalnya berat emas 20 gram, berat besi 200 kg, suhu badan orang yang sehat 370, EQ seorang 210.

Ada beberapa macam teknik skala yang bisa digunakan dalam penelitian. Antara lain adalah: Skala Linkert, Skala Guttmann, Skala Bogardus, Skala Thurstone, Skala Semantic, Skala Stipel, Skala Paired-Comparison, Skala rank-Order. Kedelapan maca teknik skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran, akan mendapatkan data interval, atau rasio. Hal ini tergantung pada bidang yang akan diukur.

Namun dalam kesempatan kali ini saya hanya ingin mengulas tentang teknik skala Likert. Sesuai dengan teknik skala yang telah saya gunakan dalam penyusunan skripsi saya.

Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.

Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan, baik bersifat favorable (positif) bersifat bersifat unfavorable (negatif).

Jawaban setiap item instrumen yang mengunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang berupa kata-kata antara lain:
a. Sangat Setuju, b. Setuju, c. Ragu-ragu, d. Tidak Setuju, e. Sangat Tidak Setuju.
a. Sangat Baik, b. Baik, c. Ragu-ragu, d. Tidak Baik, e. Sangat Tidak Baik.

Sistem penilaian dalam skala Likert adalah sebagai berikut:
Item Favorable: sangat setuju/baik (5), setuju/baik (4), ragu-ragu (3), tidak setuju/baik (2), sangat tidak setuju/baik (1)
Item Unfavorable: sangat setuju/ baik (1), setuju/ baik (2), ragu-ragu (3), tidak setuju/ baik (4), sangat tidak setuju/ baik (5).

Insrtumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda.
Contoh Bentuk checklist
Berilah jawaban pernyataan berikut sesuai dengan pendapat Anda, dengan cara memberi tanda (X) pada Kolom yang tersedia.


SS : Sangat Setuju
ST : Setuju
RG : Ragu-ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju

Contoh bentuk pilihan ganda
Berilah salah satu jawaban terhadap pernyataan berikut sesuai dengan pendapat Anda, dengan cara memberi tanda lingkaran pada nomor jawaban yang tersedia.
Arif Luqman Nadhirin akan segera menduduki jabatan manager pada perusahaan kita.
a. Sangat Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak Setuju
e. Sangat Tidak Setuju

Dengan bentuk pilihan ganda itu, maka jawaban dapat diletakan pada tempat yang berbeda-beda. Untuk jawaban di atas “Sangat Setuju” diletakan pada nomor pertama. Untuk item selanjutnya jawaban :Sangat Setuju” dapat diletakan pada nomot terakhir. Pada bentuk checklist, sering jawaban tidak dibaca, karena letak jawaban sudah menentu. Tapi dengan bentuk checklist, maka akan didapat keuntungan dalam hal singkat pembuatannya, hemat kertas, mudah mentabulasikan data, dan secara visual lebih menarik.

Itu dulu yang bisa saya tulis, semoga bisa bermanfaat bagi Anda. Untuk contoh skala serta metode analisis data bisa Anda baca pada tulisan saya selanjutnya.

Jogjakarta, Minggu 17 Januari 2010
Untuk lebih lanjut silakan kelik http://nadhirin.blogspot.com